Langsung ke konten utama

(Part-1) Jepara-Demak Iku Cedak :)


Beberapa minggu lalu, aku dan keluarga pulang ke kampung halaman. Bersyukur sekali, kami bisa pulang kesana. Senang tiada tara.

Pertama, kami ke Jepara. Lalu disusul ke Demak. Di Jepara, mbah kami atau biasa disebut 'Mae' 'Pae' sebenarnya sudah meninggal. Namun, prinsip kami tetap mengusahakan untuk menyambung tali silatuhrahmi.
(ciaaaaat) (gayak bener) 😅
Eh, serius kok tapi emang bener hehehe.

Kata mamah, 
"Kalau kita ada rezeki, kenapa enggak bersilatuhrahmi? "
Kata-kata itu sih, yang bikin aku ngena. Karena aku pun percaya, Allah sudah adil dalam memberikan rezeki kepada setiap hamba-Nya.
Iya, kan? :)
Betul. Apa betul?

Sesampainya di Jepara, kami tinggal sementara di rumah tante. Disana anak-anak kecilnya banyak. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan 'Si krucil'. Aku main dengan si krucil-krucil ini hampir setiap hari. Sampai permintaannya tuh nggak pernah berhenti deh, tapi entah kenapa hal ini yang justru membuatku senang dan rindu kalau jauh dari mereka. Maklum anak kecil emang suka bikin emessssh! 😝

"Mbak, icak. Ayo dolan neh tah"
"Mbak, icak. Ayo ndelok ndelok laut"
"Mbak, icak. Ayo ndelok youtoube neh"
"Mbak, iki piye?"

(Lari sana) (Lari sini) (Main tarik-tarikan) (Ketawa cekakak-cekikik)
Pusying-pusying ~
Kepalaku sungguh pusying ~
Ah, tapi senang! 😆

Hari terus berlalu. Sampai malam takbir pun akhirnya tiba. Perasaanku setiap takbir bergema, pasti selalu kalang-kabut. Maksudnya senang, sedih, bersyukur, terharu, dan lain-lain. Tak henti-hentinya aku mengucap rasa syukur kepada-Nya yang telah memberikan kenikmatan yang tak terhitung nilainya. Aku sangat sangat berterima kasih kepada Allah. Gabisa berkata apa-apa deh kalau gini hehe.
(Tuhkan, jadi sedih)
(Ga deng canda)
hahaha pisss 🙏

Keesokan harinya, kami sekeluarga besar melaksanakan sholat ied lalu bersalam-salaman. Nah, aku mau cerita sedikit nih tentang yang satu ini! Kalau di Jawa itu, ada tradisi sendiri menurutku sih (khususnya di keluargaku)

Jadi setiap selesai sholat ied, orang-orang tua itu ditempatin di kursi khusus. Nah, kita yang muda ya sungkeman aja. Terus nunduk. Sampe bener-bener nunduk deh, pokoknya. Kadang suka baper, terus kita di do'ain sama yang lebih tua gitu, pakai bahasa Jawa tentunya.
Hehehe kalau kalian gimana?
Sama ndak? :)

Nah seusai kegiatan sungkeman ke semua saudara-saudara, kami langsung merapat. Maksudnya merapat untuk bersuka ria. Sambil bercerita, lalu menikmati kue ringan atau makan besar. Biasanya sih nggak jauh-jauh dari opor ayam, telur rebus, rendang, sama nastar bikinan mamah tercinta. Setelah itu, barulah kami berkunjung ke setiap tetangga. Kalau di Jawa itu namanya 'Unjung-unjung' bukan 'Undur-undur' ya...
(apasih) 😂

Sayangnya, aku nggak sempet foto di sesi ini. Karena pada sibuk dewek-dewek. Maklum keluarga besarku memang sangat banyak jumlahnya. Aku nggak tau jumlah semuanya, ya kira-kira 50-an ada lah. Karena memang di keluarga besar mamah tuh, si Ma'e ini punya anak 8. Mamahku anak yang ke-3. Kebayang kan kalau cicit-cucutnya banyak?
Mungkin next time bisa foto bersama seeeeemuanya! Jadi, nanti tak tunjukin kalau bisa. Insya Allah :)

Setelah unjung-unjung selesai, kami semua sekeluarga ke makam. Makam yang kami kunjungi ada makam Pakde, Ma'e, sama Pa'e. Kita berdo'a seperti biasanya aja. Terus istirahat. Malamnya makan besar lagi deh. Rame!

Foto shalat setelah pulang dari makam

Ohya. Btw, ini foto saudara-saudara yang cowok sehabis pulang dari makam. Istirahat, terus sholat sebentar. Fotonya biasa aja sih, tapi nggak tau kenapa aku sukak aja sama momennya. Hehehe. Sederhana.

Nah. Besok nya kami ke pantai. Yuhuuuu!
Kami sekeluarga besar ke pantai tanggal 16 Juni, kalau tidak salah. Namanya, Pantai Bandengan. Kami piknik di sana, lalu melihat laut yang super duper luas. Semakin ku menyaksikan keindahan alam, semakin ku kagum dengan ciptaan-Nya. Tak lupa, kami berenang dan bermain bola di tepi pantai. Sungguuuuh senang aaaak! Mungkin karena rindu ku ini terbalas.
Alhamdulillah :)

Ini ku tunjukin foto pantainya. Ini foto waktu lagi senja, di Jepara. Bagus ya.

Pendopo Pantai Bandengan, Jepara
Laut Pantai Bandengan, Jepara

Fyi juga. Kalau di Jepara biasanya ada tradisi atau adat istiadat setiap selesai lebaran. Namanya 'Lomban'. Kegiatan Lomban ini, warga Jepara semua pergi ke laut untuk buang kepala kerbau. Katanya sih, supaya kotanya tentram dan tidak diganggu oleh makhluk-makhluk halus di lautnya. 
Hmmm 😏

Kalau diriku sih berpikir, ya sudahlah ya...
Namanya juga tradisi. Kalau dalam Islam mungkin memang agak bertentangan. Tetapi pada dasarnya, tergantung sudut pandang kita untuk menilai sesuatu hal itu dari mananya. Karena, mitos-mitos tersebut kembali lagi kepada Sang Pemilik Kuasa Alam, yaitu Allah. Hanya Dia-lah yang berhak mengatur segala kehidupan :)

Hari demi hari berlalu. Sudah saatnya keluargaku pulang. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Jujur, sebenarnya kami masih ingin lama berada disana. Namun, karena tuntutan pekerjaan, kuliah serta lainnya, kami pun terpaksa harus kembali ke Cileungsi.

Foto Perjalanan Pulang Kampung

Di jalan, ku habiskan perjalananku bersama keluarga naik mobil. Seringkali kami melihat sawah dan pepohonan.
Ah! Ku rindu Jawa ~

Eits, tunggu dulu. Sebelum pulang, tak lupa juga kami berkunjung ke keluarga papah. Pergi ke rumah Bu'e. Wait meeee Bu'e! 😊

. . .

Karena aku pun mengerti,
Setiap keluarga mempunyai ciri khas masing-masing dan keunikannya masing-masing. Semuanya berbeda. Tidak pula sama, meskipun adatnya sama. Dan aku bersyukur sekali mempunyai keluarga besar yang sangat menyayangi keluarga lainnya serta bisa menjunjung tinggi tali silatuhrahmi dan rasa kekeluargaan :)
Thanks to Allah.

"Selalu cintai keluargamu, lalu sisihkan sebagian rezekimu, dan berbuat baiklah kepada saudaramu, serta sambunglah tali silatuhrahmi. Niscaya Allah akan memberikan kebaikan kepadamu."

Cerita di Jepara segitu dulu ya. Meskipun masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan disana. Tapi, aku hanya menceritakan beberapa partnya saja. Semoga tahun depan bisa berjumpa lagi bersama mereka semua. Aamiin :)

Eh. Iya. Ini aku kasih bonus foto ku ya di penghujung cerita kali ini.  Sekian. Dan terima kasih.

Jepara, 16 Juni 2018

Selanjutnya cerita di Demak!

(Bersambung)

With, Love
Meisyarani.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PBL RSIJ Pondok Kopi (1)

Seneng rasanya, bisa nyempetin buat nulis lagi setelah beberapa bulan nggak sempet nulis ini itu, boro-boro banget. Apalagi main kan ya. Nggak deh, nggak ada waktu juga hehehe. Oke, kali ini gue akan sedikit berbagi pengalaman atau sharing tentang PBL di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi. Tapi sebelumnya gue mau cerita dulu kenapa bisa ditempatkan di RS ini. Jadi sebelum gue PBL di RS tersebut, gue emang sempet ditempatkan terlebih dahulu oleh dosen di RS PMI Bogor. Awal gue tahu ditempatkan di Bogor, seneng banget gitu. Soalnya Bogor ini ngasih banyak kenangan tersendiri bagi diri gue hahaha gayak banget. Bogor juga tempat kota kelahiran gue. Jadi selain kepengen banget ditempatin untuk PBL disana, gue juga rindu Bogor. Tapi takdir berkehendak lain. Gue nggak bisa PBL di RS PMI Bogor karena pada saat itu lagi ngelaksanain part time di Perusahaan Internasional Al-Qur'an. Jadi waktunya bentrok dan mengharuskan gue tes kesehatan di RS PMI Bogor, tapi apaboleh buat...

Rahasianya Peraturan Hidup

Pernah suatu hari, saya merasa diri ini terbebani dengan segala aktivitas. Penat, iya. Capek, pasti. Jenuh, udah suatu hal yang sering saya alami. Tapi saya nggak pernah buat coba ungkapin, paling juga ke orang-orang terdekat dan itu belum menyembuhkan seutuhnya apa yang saya rasakan. Kemudian, saya mencoba menyingkir dari orang banyak dan itu malah membuat diri saya semakin tertekan. Saya sempet berpikir, sebenernya apa sih yang saya rasakan? Menyebalkan. Alhasil, tak ada satupun yang bisa menyemangati diri saya, lalu tiba-tiba saya langsung teringat sesuatu. Nggak tau kenapa saya pingin banget ada waktu luang bersama-Nya. Saya coba shalat Isya setelah pulang kuliah. Setelah itu baca Al-Qur'an terus dzikir, dan benernya perasaan saya semacam lega karena saya pun nangis setelahnya.  Bagi umat muslim, Al-Qur'an itu udah tuntunan hidup paling bener kalau mau hidup selamat. Tapi sebagai manusia yang punya nafsu, kadang kita udah tau yang bener nya apa, tapi masih aj...

Bagian Terbaik

Jika ada seseorang datang menyapamu, mengenalimu, bahkan mencoba memasuki kehidupanmu atau lebih dari sekedar itu semua, cobalah cari bagian terbaik itu.  Jika belum juga kau temukan, coba kau lihat bagian mana yang bisa kau dapati bagian terbaik. Bisa jadi bagian terbaik itu adalah dari niat yang tulus meskipun dirimu tak pernah menyadari akan hal itu. Bisa jadi pula karena perjuangannya yang patut kau puji. Atau karena kesabaran luar biasa yang seharusnya bisa kau teladani, dan hal-hal kecil lainnya. Pernah ndak, kalian bertemu seseorang? Siapapun.  Baik itu saudara, teman-teman, bahkan orang asing sekalipun yang mencoba datang dan membuat hidupmu menjadi lebih berarti? Aku pernah. . . . Dari mereka semua, aku banyak belajar. 1. Dari mereka semua, aku belajar menghargai makna kesetiaan. 2. Dari mereka semua, aku belajar akan utuhnya menjaga perasaan. 3. Dari mereka semua pula, aku belajar banyak akan kehilangan. Bahkan, sampai...