Sudah seminggu ini, saya merindukan kegiatan PBL. PBL atau kepanjangan dari Praktik Belajar Lapangan merupakan salah satu mata kuliah semester 6 di UHAMKA.
Dimulai dari pembagian kelompok. Sebenarnya kelompok ini dipilih oleh dosen, dan alhamdulillah nya dapet kelompok angka kesukaan yaitu 8.
Yaa...meskipun apalah arti sebuah angka, tapi seneng aja gitu 😆
Ditambah anak-anaknya seru, asik, lucu, tahan banting, humoris, bisa diajak kerja sama, dan juga sabar. Nggak nyangka kami semua dipersatukan hahaha. Dimulai dari ketua, seketaris, bendahara, sampai PJ-PJ lainnya. Pembagian tugas piket pun dibagi-bagi sama kita biar adil aja hehe.
1. Edo : sang ketua, sabar, penyayang penuh kasih sayang, katanya sih aleman, kang kentut, dan sangat tidak pendiam.
2. Resa : ahli mengepel lantai dan sangat patuh terhadap apa yang diperintahkan oleh temen-temen.
3. Ka diena : yang paling tua, suka motivasiin anak-anak, demennya ngebully icamey, dan sangat humoris meskipun tampangnya sangat jutek.
(haha ampun kak)
4. Adepe : partner sejati dan tim sukses nya icamey, hamba mandat, sangat kuat bergadang, dan tidak sombong.
5. Alliya : melon nya icamey, rame orangnya, sangat friendly, rempong-rempong club tapi saya sayang.
6. Kiki bergizi : ahli IT dan mencuci piring, sangat bergizi orangnya karena hobbynya minum susu, dan sukak marahin si edo ckck.
7. Dea : anak arab, cantik, manis, suaranya meledak kalau udah ngomong, hobbynya ngganyem makanan dan tidur, tapi salut karena yang paling rajin di kelompok.
8. Intan : mamahnya kita semua, sangat keibu-ibuan, si rajin mandi pagi jam 4, mbayangin dong :)
9. Icamey : katanya sih pendiam dan pemalu.
Awal pas denger anak-anak angkatan ngomong :
"Eh, desa lu tuh paling ujung, aksesnya susah."
"Wahgilasih, desa lu parah cuy, tak ada jaringan."
"Eh hati-hati ya, di Sangiang..."
Dan bla, bla, bla. Dengan segala kekhawatiran.
Dan, alhamdulillahnya di desa kami...
Memang bener sih nggak ada sinyal, jalanannya bergejolak tapi nggak kaya api kok, dan tidak ada sinyal apalagi internet. Luar biasa wkwkwk.
Tapi disamping itu, kami sangat bersyukur bisa tinggal dengan aman dan nyaman meskipun saya sempat jatuh sakit di awal PBL dan langsung menularkan virus-virus secara bertahap ke temen-temen lainnya haha.
(hampura atuh ya) 🙏
Ditambah bidan di desa Sangiang Jaya sangat baik, ramah, dan benar-benar membantu kami dengan tulus, begitu juga dengan para kader posyandu nya yang semuanya terlihat kompak dan erat tali kekeluargaannya.
Sesampainya disana, kami langsung bertemu bidan untuk berbincang-bincang sembari santai dan langsung disuguhi keripik singkong beserta teh manis hangat. Kami meminta data-data yang akan digunakan nantinya saat turun lapang. Dimulai dari data rekapan nama-nama balita dan ibu hamil, juga data-data sekunder. Tak lupa kami membicarakan rencana pengambilan sampel yang akan dilaksanakan di desa Sangiang Jaya.
Sangiang Jaya terbagi atas 5 kampung yakni Lebuh, Cicikur, Rokeh, Kadulisung, dan Bubur Sabrang. Nah, Bubur Sabrang ini yang paling jauh. Sampai-sampai saya dan teman saya jatuh dan babak belur dari motor akibat jalanannya sangat ekstrim dan melewati hutan-hutan yang sepi banget untuk sampai ke Bubur Sabrangnya :")
(Ndak apa-apa lah yaa, pengalaman) 😅
#nyemangatin diri sendiri
Saya langsung sempat berpikir tentang masyarakat disana. Hebat-hebat. Kuat-kuat. Tangguh-tangguh. Salut!
(Nggak kaya saya) 😑
Saat sampai di desa Sangiang Jaya, kami semua langsung bersilatuhrahmi ke kampung-kampung, lalu beristirahat.
Dilanjut esoknya mencari data.
Eit, nggak lupa juga untuk buat target planning kelompok ya. Waktu PBL, kami sempat pasang schedule, ditulis di kertas yang gede, terus ditempel di pintu kamar.
Katanya sih biar inget. Kurang lebih kayak gini.
Panas-panas tetep aja tuh harus ngescreening ibu hamil dan balita. Bawa-bawa dacin ke kampung-kampung, ukur panjang badan balita pake lengthboard, ukur lila ibu hamil, sama ngerecall bumil dan balita sampai sore. Sampai-sampai pas ngerecall balitanya nangis-nangis dong...
Eit, nggak lupa juga untuk buat target planning kelompok ya. Waktu PBL, kami sempat pasang schedule, ditulis di kertas yang gede, terus ditempel di pintu kamar.
Katanya sih biar inget. Kurang lebih kayak gini.
Panas-panas tetep aja tuh harus ngescreening ibu hamil dan balita. Bawa-bawa dacin ke kampung-kampung, ukur panjang badan balita pake lengthboard, ukur lila ibu hamil, sama ngerecall bumil dan balita sampai sore. Sampai-sampai pas ngerecall balitanya nangis-nangis dong...
Selama hampir 4 hari yaa, begitu aja sampai dapet data sekitar 200-an lebih untuk balita dan 39 untuk ibu hamil.
Pokoknya memang harus sabar-sabar, deh.
Disana, untuk mendapatkan data juga perlu perjuangan yang ekstra. Dimulai dari melewati sungai atau kali dengan jalan kaki, menembus ke hutan-hutan pakai ambulance desa, melewati jembatan gantung, dan tanah gersang yang kayak di padang pasir, serta lainnya.
Udah kayak adventure banget, kan ya 😎
Dalam kelompok, menurut saya hal yang paling sulit adalah bekerja sama dan dapat memanage tim dengan baik. Tapi untungnya di kelompok kami ndak ada yang baper-baper dan alhamdulillahnya semua dilancarkan dan santai aja gitu ngejalanininnya hehe.
Kalau kekurangan tim gimana?
Ya, tentu ada.
Tapi disamping itu, kami tetep berusaha untuk merangkul satu sama lain, membantu sesama, sampai akhirnya buat forum dan ngebahas hal-hal yang masih harus dibenahi.
Ghayak bener yak.
Tapi, nyatanya memang seperti itu kok.
Hari demi hari berlalu, dan akhirnya dosen visit. Yay!
Waktu itu kami mendapati dosen bu Jannah.
Nggak nyangka bu Jannah bisa sampai ke desa kami. Katanya beliau sih "Rezeki dosen sholehah."
Hahaha, iyak buk iyak.
Siap buk, siap 😇
Waktu dosen kami datang, senang tapi agak takut juga karena data kami belum lengkap. Tapi alhamdulillahnya beliau sangat baik dan banyak ngasih solusi yang ci-a-mik.
Dilanjut kuliah di puskesmas. Di momen ini, saya langsung melepas rindu dengan teman-teman angkatan karena udah nggak ketemu beberapa hari setelah pembukaan PBL.
Waktu kami kuliah di puskesmas, ngebahas permasalahan tiap-tiap desa. Jadi diliat presentasi berapa banyak gizi buruk, gizi kurang, gizi baik yang ada di masing-masing desa.
Nggak cuma itu aja, data-data penunjang lain juga diperlihatkan seperti keafktifan ikut posyandu, pelayanan kesehatan, dan lain-lain.
Banyak banget ilmu yang di dapat.
Alhamdulillah.
Setelah pulang dari kuliah puskesmas, kami langsung keinget data yang belum kami olah dengan SPSS. Setelah sholat Isya, kami baru mulai mengerjakan. Pokoknya udah nggak mikirin teraturnya tempat. Semuanya penuh dengan kertas-kertas kuisioner dan cemilan makanan hahaha 😂
Diberesin kuisionernya, diinput ke SPSS, masukin WHO-Antro, bikin perintilan-perintilan mandat dan akhirnya kami lupa waktu.
Bergadang sampai pagi.
Ini tuh, pertama kalinya saya bergadang dan nggak tidur sampai pagi saat itu.
Sampai subuh baru deh, tidur.
Mbayangin dong. Sudah kaya zombie :")
Disana, kami juga bermain dengan krucil-krucil. Kebetulan ada juga krucil yang ngintilin kami. Main karet, main engkle, nonton pelem, makan cilok, dan lain-lain.
Kalau diliat-liat perbandingan desa dan kota itu jauh banget.
Iyalah, jelas.
Di kota, kamu bisa penuhin tuh kebutuhan yang kamu pingin. Sementara di desa? Harus berjuang dulu plus musti legowo. Tapi kalau diliat-liat, orang desa tuh kuat-kuat, sopan, sederhana, dan ramah. Saya sih, nyaman aja sama mereka karena memang sangat beda deh sama orang kota. Meskipun ada juga beberapa orang kota yang sama karakternya dengan orang desa, tapi mungkin nggak sebanyak orang desa.
Orang desa? You are the best ~
😘
Setelah itu, saya langsung mikir mamah, papah, mas adi, dan saudara-saudara, serta teman teman.
Saya langsung rindu mereka seketika.
Aaaaak!
Penutupan PBL akhirnya tiba. Ditutup dengan mengucap Alhamdulillah. Orang-orang dinas pun datang menyaksikan presentasi dari kami.
Deg-degan rasanya. 15 hari sudah terlewati. Kami puji syukur.
Pas sampai dirumah, saya langsung bersyukur.
Yap, lagi-lagi bersyukur.
Ndak pernah berhenti untuk bersyukur.
Karena Allah itu benar-benar Maha Baik.
Kita kadang suka lupa apa yang sudah Allah kasih ke kita itu merupakan hal yang dipingin oleh orang lain.
Tapi kita sering ndak sadar.
Sering menyepelekan.
Malahan bersikap sombong terhadap harta benda yang semua ini hanya titipan.
. . .
Semoga tiap-tiap diri kita bisa selalu bersyukur terhadap apa yang dipunya dan nggak boleh tuh ngeluh-ngeluh lagi.
(Saya nulis ini, sebenernya untuk reminder diri sendiri sih)
Ini dapat bonus foto sisa di Sangiang Jaya.
Sekian cerita dari kami kelompok 8.
Yang katanya :
"Ngerjain-ngerjain? Tidur!"
Sampai berjumpa di Intervensi!
With, Love
Meisyarani.
With, Love
Meisyarani.



Komentar
Posting Komentar